BTemplates.com

Senin, 22 Oktober 2018

cerpen ayah

Oleh: Fitriani

Pagi itu sang mentari mulai menampakkan mukanya ,dan di dalam balutan selimut yang hangat aku mendengar suara seorang laki-laki yang dengan lantang membangunkan ku,ya,,,dia ayahku,dia adalah sosok seorang laki-laki yang memiliki jiwa pemimpin yang pernah aku temukan, meskipun tampangnya galak tapi dia sangat baik pada semua orang,bahkan hampir setiap dia sebelum pergi kerja kami selalu bermain dan bercanda bersama dan hebatnya lagi ketika ibuku sakit,dialah yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga,hebat bukan.
Tapi sekarang semuanya sudah berbeda,keadaan tidak seperti dulu lagi,waktu aku kelas dua SD keluarga kami mengalami problema yang mengakibatkan keluarga kami runtuh,ayah dan ibuku berpisah.dan akupun harus memilih ikut salah satu dari mereka, akupun memilh ikut dengan ibu dan kami memutuskan untuk pindah ke kampung halaman kami di pariaman,di sini aku memulai kehidupan baru dengan ibu tanpa ada sosok seorang ayah yang sangat aku sayang.dan pada saat itu ibupun harus menjadi tulang punggung keluaga dan dia memutuskan untuk mencari kerja,dan lamarannyapun di terima di salah satu perusahaan swasta di padang,semenjak hari itu aku semkin merasa kurangnya kasih sayang yang aku dapatkan karna ibu jarang di rumah, dia selalu pergi pagi dan pulang malam,sehingga pada saat itu hari minggu adalah hari yang paling berharga untukku.tapi syukur keadaan itu tidak bertahan lama setelah menceritakan apa yang aku rasakan semenjak ibu kerja jauh dan ibupun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memilih membuka warung di rumah.
Waktupun terus berlalu dan kini usiaku sudah menginjak bangku SMA,dan di sinilah aku mulai mencari tahu dimana keberadaan ayah sekang,”Bu,,aku rindu ayah,apa ibu tahu dimana ayah sekarang”,,?.tanyaku kepada ibu.”mungkin di padang tempat nenekmu”jawab ibu dengan suara serak dan kepala terunduk,dan akupun terus bertanya dan akhirnya ibupun memberikan alamat rumah nenek kepadaku,aku lega dan aku memutuskan untuk mencari ayah kesana tapi aku belum memiliki keberanian untuk itu.”,,,sebaiknya aku menunggu waktu yang tepat dulu”.
Beberapa bulanpun berlalu setelah hari itu dan aku memutuskan untuk mencarinya,karna munkin inilah waktu yang tepat dimana seiringnya dengan bulan Ramadan,dengan membaca bismilah ku langkahkan kakiku menuju tempat yang aku cari dan berharap aku bias menemukan dimana ayang tinggal,tapi pencarianku halang karna luasnya kota pada dan sempitnya pengetahuanku tentang alamat yang aku tuju,namun keputus asaan tak pernah mengiringiku dan akupun terus bertanya dan bertanya lagi dimana alamat ini sebenarnya terletak,syukur Alhamdulillah aku menemukan alatnya.
Dari kejauhan aku melihat rumah nenek,rasa bahagian dan cemas datang mengawaniku,setiba di depan rumahnya mata ini mulai berkaca-kaca dan aku meliahat sesosok nenek tua yang sedang duduk di ruang keluarga,dia datang menghampiriku,tanpa percakapan panjang aku lansung merangkulnya,”ini cucumu nek,,,”ucapku sambil diiringi deraian air mata yang tak kuasa ku tahan,”akhirnya kamu datang juga nak,sudah lama kami menunggu kehadiranmu”ucap nenek sambil meraba wajahku,tapi aku belum melihat sosok ayah,dimana dia,,,,?.dan aku mempertanyakan itu kepada nenek,”dia ada di dalam”ujar nenek sambil senyum,dan tak lama kemudian ayah keluar dari dalam rumah,sambil memetik sebatang rokok dan wajah yang menggerunyam dia bertanya kepada nenek,”ada apa ini bu dan siapa dia,,,?”.dan ternyata dia sudah lupa padaku,nenekpun menjawab”dia anakmu,anak yang kau tinggalkan dulu”,,,”tidak mungkin,anakku masih kecil,dia bukan ankku”jawab ayah sambil kebingungan,mata ini semakin tak kuasa menahan derasnya air mata yang ingin mengalir begitu deras dari perkataan yang ia ucapkan,meskipun begitu aku mencoba menerima dan mengerti,aku berusah membuka tabir lama cerita kami dahulu sewaktu aku masih kecil,aku menjelaskan rinci demi rinci kepadanya,dan dalam keheningannya dalam mendengar penjelasanku,aku melihat rona wajahnya yang mulai mengeluarkan tetesan kaca lunak dan mulai mengalir di pipinya,ya,,,dia sudah mengakuiku sebagai anaknya,anaknya yang dulu,meskipun aku tahu masih rersimpan keraguan di balik bola matanya.
Malam itu kami cerita banyak,dan di tengah perbincangan kami ayah menanyakn kabar ibu,”bagaimana kabar ibumu,,,?apakah dia baik-baik saja”,,,tanyanya dengan suara menderu lemah,aku bahigia dia masih memepertanyakan itu,dan aku menjawab semua prtanyaannya tentang ibu.dan pada malam itu rasa bahagia kembali ku rasa dari ucapannya ketika aku hendak berpamitan pulang”hati-hati di jalan ya NAK”,dia memanggilku dengan sebutan anak,dan itu menjadi kata penutup yang aku terima malam itu,,,,,
Dan di akhir ramdhan kami merayakan lebaran bersama,dengan penuh haru,dengan penuh kebahagian dan dengan penuh cinta.
Aku menjalani kehidupanku dengan penuh gembira, senang, dan ceria. Tapi di balik itu semua, ada yang kurang yaitu menjalani hidup tanpa Ayah. Aku sedih sekali. Aku jarang sekali bertemu Ayah. Sedangkan aku hanya bisa mendengar suaranya saja dari telepon. Aku bepikir, apakah Ayah sudah tidak sayang aku lagi? Lalu, aku bertanya kepada Ibu.
“Bu! Kenapa Ayah nggak pernah pulang? Apa Ayah sudah nggak sayang kita lagi?” tanyaku pada Ibu.
“Nggak Rika, Ayah masih sayang kita kok” jawab Ibu.
“Tapi, kenapa Ayah nggak pulang-pulang?” tanyaku lagi.
“Ayah nggak pulang karena ia sibuk mencari uang untuk menafkahi kita. Supaya, kehidupan kita terpenuhi”
“Oh! Begitu ya Bu. Tapi kan nggak seharusnya Ayah jarang pulang” ucapku berkali-kali menanyakan hal itu.
“Sudah-sudah, tidur saja kamu” suruh Ibu.
“Tapi Bu!”
“Cepat tidur!”
“I, i-iya Bu” ucapku.
Lalu aku tidur sambil memikirkan, apa kata Ibu tadi benar ya? Tapi kan Ayah juga bisa pulang pada waktu Idul Fitri atau Tahun Baru, sementara sebentar lagi tahun baru. Kira-kira Ayah pulang apa tidak ya? Dan keesokan harinya, aku pergi ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, aku mendengar berita bahwa besok sudah mulai libur sekolah karena sebentar lagi tahun baru. Tak lama kemudian, bel petanda pelajaran akan segera dimulai sudah berbunyi. Bu Guru pun datang dan ternyata berita tadi benar. Lalu, Bu Guru menyampaikannya.
“Assalamualaikum Wr. Wb”
“Waalaikumsalam Wr. Wb”
“Anak-anak, Ibu ingin menyampaikan satu pengunguman bahwa mulai besok, kalian sudah mulai libur selama dua minggu” itulah isi pengunguman dari Bu Guru.
“Horeee!!!” kami sekelas berteriak kegirangan, karena libur adalah hal yang paling kami sukai.
“Tapi kalian di rumah harus belajar ya!” pesan Bu Guru.
“Iya bu”
Kemudian, teman-temanku semua berbicara tentang rencana mereka yang akan liburan tahun baru bersama keluarga mereka termasuk Ayah dan Ibu mereka.
“Oh iya, kamu liburan ke mana?” tanya Rina.
“Kalau aku mau liburan ke Candi Borobudur sama Ayah dan Ibuku. Kalau kamu?” jawab Lia lalu bertanya kembali.
“Kalau aku diajak Ayahku ke Malang sama Ibu dan Adikku. Kalau kamu Rika, liburan ke mana?” tanya Rina kepadaku. Namun aku hanya melamun dan membayangkan sesuatu hal.
“Rik! Rika! Rikaaa!” Seru Lia.
“He, a-a apa?” tanyaku kepada mereka.
“Kamu mau liburan ke mana? Kalau aku liburan ke Candi Borobudur sama Ayah dan Ibuku, kalau Rina diajak Ayahnya ke Malang sama Ibu dan Adiknya” jawab Lia.
“Entah, aku mau liburan ke mana. Mungkin aku di rumah saja” jawabku.
“Oh, kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, aku males pergi kemana-mana”
“Oh iya, Ayah kamu pulang nggak sih Ka? Apa mungkin kamu yang pergi ke sana?” Salah satu dari mereka bertanya kepadaku.
“Entah, aku juga nggak tahu” jawabku.
Tak lama kemudian, bel panjang pun berbunyi tandanya pelajaran pada hari ini sudah berakhir. Aku pun pulang. Setelah sampai rumah, aku bertanya kepada Ibuku.
“Ibu, Ibu, aku besok sudah mulai libur. Kira-kira tahun baru ini, Ayah pulang nggak Bu?” tanyaku.
“Ibu, aku coba telpon Ayah ya Bu?” lanjutku.
Lalu, aku menelpon Ayah. Tak lama kemudian, Ayah mengangkat panggilan dariku dan aku pun sudah tersambung dengan Ayah.
“Hallo Ayah”
“Hallo! Ada apa” tanya Ayah.
“Ayah pulang kapan?” tanyaku.
“Emm, kira-kira satu minggu lagi” jawab Ayah.
“Oh, tapi Ayah janji kan kalau liburan tahun ini Ayah akan pulang”
“Iya! Ayah janji”
“Horeee, soalnya aku sudah kanget banget sama Ayah” ucapku kegirangan.
“Iya, Ayah juga kangen sama Rika”
“Udah dulu ya yah. Aku sayang Ayah” ucapku mengakhiri panggilan ini.
“Iya, Ayah juga sayang Rika”
Satu minggu sudah berlalu, tetapi Ayah belum datang juga. Aku pun menelpon Ayah lagi.
“Hallo Ayah?”
“Hallo, O iya Rika. Maaf ya Ka, Ayah nggak bisa pulang. Soalnya Ayah masih sibuk” itulah alasan dari Ayahku.
“Ya udah, nggak apa-apa yah”
“Tapi, maafin Ayah ya. Kamu nggak apa-apa kan tahun baru sama Ibu?” tanya Ayah.
“Iya yah!” jawabku.
“Semangat!!! Anak Ayah nggak boleh seperti itu, anak Ayah harus semangat terus” ucap Ayah dengan penuh semangat.
“Iya Ayah” jawabku juga dengan penuh semangat.
“Nah! Seperti itu dong anak Ayah. Ya udah, udah dulu ya. Daaa, Ayah sayang Rika” pamit Ayah.
“Rika juga sayang Ayah”
Setelah aku menelpon Ayah, aku menemui Ibuku dan bertanya lagi.
“Ibu, kenapa Ayah nggak jadi pulang?” tanyaku.
“Ayah itu sebenarnya sangat sayang sekali sama kita. Dan dia bekerja keras demi menafkahi kita. Dan dia juga berkorban, sampai-sampai dia rela nggak pernah pulang” jawab Ibu.
“Iya Bu”
“Coba deh kamu lihat film yang ada di TV itu. Film itu bercerita tentang bagaimana seorang Ayah bekerja keras demi keluarganya. Dan dia juga berkorban meskipun cuaca sangat panas, tetapi tidak dia hiraukan agar kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi” ucap Ibu.
Setelah aku dinasihati oleh Ibu. Aku baru sadar kalau Ayah itu bekerja demi memenuhi kebutuhanku. Selama ini, aku berpendapat salah tentang Ayah. Ternyata Ayah tidak pulang karena Ayah bekerja demi aku.
“Ayah! Aku kangen sama Ayah. Semoga ada waktu untuk Ayah agar Ayah bisa pulang ke rumah. Meskipun Ayah jauh di sana, tetapi Ayah akan selalu ada di hatiku. I Love You Ayah. Aku sayang Ayah”
Satu satu nya hal yang aku miliki yang paling berharga  dalam hidup ini
adalah kedua orang tua ku
tanpa kalian aku tak mungkin ada di sini
terimakasih ayah kau telah menjadi ayah yang sempurn untuk aku
terimakasih ibu kau telah menjadi ibu yang sempurna untuk aku
tanpa kalian hidup ku terasa hampa
terima kasih atas warna yang telah engkau kibarkan dalam hidup ku
terima kasih atas jasa jasa yang kalian berikan untuk aku
terima kasih atas pengorbanan dan perjuangan kalian untuk aku
terima kasih telah melahirkan aku kedunia ini
terimakasih telah mengizinkan aku untuk menjadikan bagian dalam hidup kalian
ayah terima kasih karna kau telah memberi aku nafas
dari aku lahir hingga saat ini
kau terus berjuang demi menghidupi keluargamu termasuk aku
ibu terima kasih karena kau telah merawatku
sampai saat ini aku hidup
karena ibulah yang memberi aku makan danminum
ibulah yang menjaga ku siang dan malam
terima kasih ayah
terima kasih ibu
telah menjadikan aku anak yang soleh/a
aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi ayah dan ibu
di saat waktunya tiba
di saat ayah dan ibu  tak mampu lagi untuk berjalan
di saat ayah dan ibu tak mampu lagi untuk bekerja
aku akan menggantikan mu
aku akan merawat mu
dan aku akan menjaga kalian sampai kalian terlelap tidur
ayah maafkan aku
ibu maafkan aku
karena aku terkadang selalu membantah perintah mu
maafkan aku atas segala ke khilafan ku
maafkan aku  karena aku tak bermaksud untuk melukai hati mu

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

iklan

iklan

ANIMASI

Blogroll

BTemplates.com

SAKURA

Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive